STAFMEDIA.MY.ID - Manusia
itu pada dasarnya punya dua tugas utama dalam hidupnya. Dua tugas tersebut
merupakan amanah dari Allah yang dibebankan dalam proses penciptaan manusia.
Adapaun dua tugas yang dimaksud adalah beribadah kepada Allah dan menjadi
khalifah-Nya dalam memelihara bumi ini. Dua hal ini sesuai dengan firman Allah
berikut:
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya:“Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”[i]
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ
ٱلْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ
ءَاتَىٰكُمْ ۗ
إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ
لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
Artinya:
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk
mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat
cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[ii]
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ
لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ
Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”[iii]
Maka
dari itu, ibadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi adalah tugas
yang harus benar-benar dilaksanakan dengan baik. Apalagi dalam menjalankan
keduanya. Kita tidak boleh bertentangan dengan kehendak dan ketentuan Allah swt
dan Rasul-Nya yang terdapat dalam al-quran dan sunnah maqbulah.
Adapaun
upaya pelaksanaan ibadah dan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bila
dijalankan dengan baik sesuai ketentuan, jelas akan berbuah keridhaan Allah
swt.
Pengertian
Ibadah
Ibadah
secara bahasa memiliki makna; (1) ta’at (الطاعة); (2) tunduk (الخضوع); (3) hina (الذل) dan (4) pengabdian(التنسك). Jadi bisa disimpulkan bahwa ibadah itu
merupakan bentuk ketaatan, ketundukan, dan pengabdian kepada Allah. Adapun
secara istilah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi ibadah dengan
segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa ucapan dan amalan,
yang nampak dan yang tersembunyi.
Sedangkan
Ibadah menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah didefinisikan dengan pengertian:
“Ibadah
adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan melaksanakan
perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mengamalkan segala
yang diizinkan Allah”.
Berdasarkan
dari dua pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa Ibadah sangat terkait
dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Baik itu yang nampak ataupun yang
tersembunyi dalam batin kita. Dimana pelaksanaannya harus melibatkan aktivitas
hati, lisan, dan badan.
Prinsip
dalam Beribadah
Ketika
kita berupaya menjalankan ibadah kepada Allah swt. Ternyata ada beberapa
prinsip yang harus kita perhatikan dengan baik. Tujuan dari memahami prinsip
ibadah tersebu adalah untuk kesempurnaan ibadah kita sendiri. Adapaun prinsip
ibadah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Prinsip
Mentauhidkan Allah
Prinsip
mentauhidkan Allah adalah prinsip yang paling utama dalam ibadah. Dimana segala ibadah yang kita lakukan
ditujukan hanya kepada Allah semata, tidak kepada yang lain. Prinsip ini
tertuang dalam firman Allah sebagai berikut:
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ
نَسْتَعِيْنُ
Artinya:
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon
pertolongan.”[iv]
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ...
Artinya:
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun...” [v]
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ
رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya:
“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang
menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut (sesembahan selain Allah).”[vi]
2. Prinsip
Ikhlas Karena Allah swt
Allah
swt menegaskan bahwa beribadah kepada-Nya harus senantiasa diiringi dengan
keikhlasan. Sebagaimana tercantum dalam firman-Nya berikut:
وَمَآ
اُمِرُوْٓا
اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ
حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ
الْقَيِّمَةِۗ
Artinya:
“Padahal mereka tidak disu ruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”[vii]
3. Prinsip
Tidak Menggunakan Wasilah (Perantara)
Sebagaimana
tercantum dalam Firman Allah swt
وَاِذَا
سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ
اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ
يَرۡشُدُوۡنَ
Artinya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka
sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa
kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku,
agar mereka memperoleh kebenaran.” [viii]
4.
Prinsip sesuai dengan Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Maqbulah
Salah
satu prinsip berkaitan dengan ibadah, khususnya ibadah mahdah adalah
ta'abudi (berbasis ketaatan kepada Allah dan Rasulnya). Sehingga tidak boleh
adanya inovasi ataupun hasil kreasi dari pemikiran manusia.
Oleh
karena itu, ibadah mahdah dalam proses pelaksanaanya harus sesuai dengan
tuntunan yang terkandung dalam al-Qur'an dan as-sunnah maqbulah. Bila
tidak sesuai dengan dua hal tadi, maka bisa dikategorikan dengan bid'ah.
Rasulullah saw menegaskan bahwa perbuatan bid'ah itu tertolak dalam hadisnya
sebagai berikut:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ
عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang
bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”[ix]
5. Prinsip
Keseimbangan
Prinsip
keseimbangan dalam ibadah adalah mencakup seimbang dunia dan akhirat, serta
seimbang secara jasmani dan ruhani.
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ
الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi.”[x]
6. Ringan
(tidak mempersulit) dan Mudah (tidak meremehkan):
Firman
Allah:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا
إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذْنَآ
إِن نَّسِينَآ
أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن
قَبْلِنَا ۚ
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا
وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا
فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
yang kafir". [xi]
Oleh: Waskito Hartono, S.Th.i
Anggota Majelis Tabligh PCM Banjarsari dan Pengajar di Pondok Pesantren At-Tajdid Banjarsari
[i] QS.
Adz-Dzariyaat: 56.
[ii] QS.
Al-An’am: 165.
[iii] QS.
Al-Baqarah: 30.
[iv] QS.
Al Fatihah: 5.
[v] QS.
An Nisa’: 36.
[vi] QS.
An Nahl: 36.
[vii] QS.
Al-Bayyinah: 5.
[viii] QS.
Al Baqarah: 186.
[ix]
HR.Muslim.
[x] QS.
Al Qashshash: 77.
[xi]
(QS. Al-Baqrah: 286).

