Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Falsafah dan Prinsip dalam Berbadah

Rabu, 09 Agustus 2023 | Agustus 09, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-08-10T07:39:36Z

 


STAFMEDIA.MY.ID - Manusia itu pada dasarnya punya dua tugas utama dalam hidupnya. Dua tugas tersebut merupakan amanah dari Allah yang dibebankan dalam proses penciptaan manusia. Adapaun dua tugas yang dimaksud adalah beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah-Nya dalam memelihara bumi ini. Dua hal ini sesuai dengan firman Allah berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya:“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”[i]

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ ٱلْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ

Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[ii]

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.[iii]

Maka dari itu, ibadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi adalah tugas yang harus benar-benar dilaksanakan dengan baik. Apalagi dalam menjalankan keduanya. Kita tidak boleh bertentangan dengan kehendak dan ketentuan Allah swt dan Rasul-Nya yang terdapat dalam al-quran dan sunnah maqbulah.

Adapaun upaya pelaksanaan ibadah dan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bila dijalankan dengan baik sesuai ketentuan, jelas akan berbuah keridhaan Allah swt.

Pengertian Ibadah

Ibadah secara bahasa memiliki makna; (1) ta’at (الطاعة); (2) tunduk (الخضوع); (3) hina (الذل) dan (4) pengabdian(التنسك). Jadi bisa disimpulkan bahwa ibadah itu merupakan bentuk ketaatan, ketundukan, dan pengabdian kepada Allah. Adapun secara istilah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi ibadah dengan segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai  Allah SWT, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.

Sedangkan Ibadah menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah didefinisikan dengan pengertian:

“Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah”.

Berdasarkan dari dua pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa Ibadah sangat terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Baik itu yang nampak ataupun yang tersembunyi dalam batin kita. Dimana pelaksanaannya harus melibatkan aktivitas hati, lisan, dan badan.

Prinsip dalam Beribadah

Ketika kita berupaya menjalankan ibadah kepada Allah swt. Ternyata ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikan dengan baik. Tujuan dari memahami prinsip ibadah tersebu adalah untuk kesempurnaan ibadah kita sendiri. Adapaun prinsip ibadah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Mentauhidkan Allah

Prinsip mentauhidkan Allah adalah prinsip yang paling utama dalam ibadah.  Dimana segala ibadah yang kita lakukan ditujukan hanya kepada Allah semata, tidak kepada yang lain. Prinsip ini tertuang dalam firman Allah sebagai berikut:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”[iv]

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ...

Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun...” [v]

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya: “Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut (sesembahan selain Allah).”[vi]

2. Prinsip Ikhlas Karena Allah swt

Allah swt menegaskan bahwa beribadah kepada-Nya harus senantiasa diiringi dengan keikhlasan. Sebagaimana tercantum dalam firman-Nya berikut:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Artinya: “Padahal mereka tidak disu   ruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”[vii]

3. Prinsip Tidak Menggunakan Wasilah (Perantara)

Sebagaimana tercantum dalam Firman Allah swt

وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [viii]

4. Prinsip sesuai dengan Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Maqbulah

Salah satu prinsip berkaitan dengan ibadah, khususnya ibadah mahdah adalah ta'abudi (berbasis ketaatan kepada Allah dan Rasulnya). Sehingga tidak boleh adanya inovasi ataupun hasil kreasi dari pemikiran manusia.

Oleh karena itu, ibadah mahdah dalam proses pelaksanaanya harus sesuai dengan tuntunan yang terkandung dalam al-Qur'an dan as-sunnah maqbulah. Bila tidak sesuai dengan dua hal tadi, maka bisa dikategorikan dengan bid'ah. Rasulullah saw menegaskan bahwa perbuatan bid'ah itu tertolak dalam hadisnya sebagai berikut:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:  “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”[ix]

5. Prinsip Keseimbangan

Prinsip keseimbangan dalam ibadah adalah mencakup seimbang dunia dan akhirat, serta seimbang secara jasmani dan ruhani.

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”[x]

6. Ringan (tidak mempersulit) dan Mudah (tidak meremehkan):

Firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". [xi]

Oleh:  Waskito Hartono, S.Th.i

Anggota Majelis Tabligh PCM Banjarsari dan Pengajar di Pondok Pesantren At-Tajdid Banjarsari



[i] QS. Adz-Dzariyaat: 56.

[ii] QS. Al-An’am: 165.

[iii] QS. Al-Baqarah: 30.

[iv] QS. Al Fatihah: 5.

[v] QS. An Nisa’: 36.

[vi] QS. An Nahl: 36.

[vii] QS. Al-Bayyinah: 5.

[viii] QS. Al Baqarah: 186.

[ix] HR.Muslim.

[x] QS. Al Qashshash: 77.

[xi] (QS. Al-Baqrah: 286).

×
Berita Terbaru Update