![]() |
| pixabay.com |
STAFMEDIA.MY.ID - Ada dua tugas utama yang melekat
ketika diciptakan.Kedua tugas tersebut harus benar-benar kita perhatikan dengan baik. Dua hal itu
adalah beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا
لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”[1]
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi.”[2]
Maka dari itu, ibadah kepada Allah
dan menjadi khalifah di muka bumi adalah tugas dan amanah yang berat. Syaitan
sebagai musuh utama manusia berusaha sekuat tenaga mendorong kita untuk lalai
terhadap dua tujuan tersebut. Manusia didorong untuk terperosok ke dalam
kehinaan dengan cara melakukan kemaksiatan kepada Allah swt dan berbuat
kerusakan di muka bumi.
Sehingga ada sebagian manusia yang
seharusnya berada dalam derajat kemulian. Malah terperosok dalam kehinaan dan
kebodohan, sekali lagi karena bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di
muka bumi.
Untuk itu, sebagai manusia mari kita
kembali kepada jalan kemulian. Adapun jalan kemuliaan dan kebahagian bisa
diraih hanya dengan ilmu. AHal ini Allah swt tegaskan dengan penyataan bahwa menjadikan Allah swt menegaskan bahwa derajat
manusia terangkat dan menjadi mulia karena ilmu yang dimilikinya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا
قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ
وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai orang-orang beriman
apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”[3]
Pada Abad ke 21 ini, akses terhadap
ilmu luar biasa mudahnya. Sumber ilmu dalam bentuk cetak dan digital semakin
mudah di akses oleh para penuntut ilmu. Bahkan dengan mengetikan kata kunci
tertentu di internet saja. Pengetahuan tentang segala sesuatupun bisa di dapat.
Hanya saja, kemudahan dalam
mengakses ilmu tersebut. Tidak membuat seluruh manusia semakin yakin, taat, dan
takut kepada Allah.
Tentu perlu kita akui juga dengan
akses ilmu yang mudah hari ini, banyak orang yang menjadi lebih baik. Mereka
berusaha mengakses ilmu melalui karya-karya ulama, kemudian mengamalkan dan
menyebarkannya.
Tapi sebaliknya, akses informasi
yang begitu cepat. Memudahkan para pelaku maksiat untuk mengakses pembenaran
atas perbuatannya. Bahkan menciptakan narasi dan kebenaran baru sebagai upaya
mengajak manusia lainnya untuk bermaksiat bersama.
Realita seperti inilah yang seharusnya
kita sadari. Dimana kita harus berupaya mengembalikan ilmu sebagai cahaya.
Menyinari akal dan hati manusia untuk menjadi hamba Allah yang terbaik.
Mendorong manusia semakin takut dan kepada Allah. Apalagi Al-Quran telah
memberiakn standar jelas tentang kriteria orang yang berilmu dengan ilmunya
harus seperti apa. Ayat yang dimaksud sebagai berikut
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ
الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”[4]
Oleh karena itu, mungkin kita
berbangga hati atau gelar pendidikan yang diraih. Hanya saja, semua itu tidaklah
sempurna itu bila tidak berdampak pada sikap kita. Terutama sikap semakin takut
kepada Allah swt. Takut dalam bermaksiat dan berbuat
Oleh: Waskito Hartono, S.Th.i
Anggota Majelis Tabligh PCM Banjarsari dan Pengajar di Pondok Pesantren At-Tajdid Banjarsari, Ciamis.

