STAFMEDIA.MY.ID - Sebagai
manusia tentu kita tidak bisa luput dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu,
berusaha kembali ke jalan yang benar dengan cara bertaubat kepada Allah swt adalah
jalan yang harus ditempuh.
Apalagi,
keinginan dan dorongan untuk bertaubat kepada Allah swt sejatinya adalah
anugerah dan keberuntungan dari-Nya. Hal ini, Allah swt sendiri tegaskan dalam
Firman-Nya melalui lisan Rasulullah saw. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an
sebagai berikut:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian
beruntung.” [1]
Ketika
telah Allah menegaskan mengambil jalan taubat adalah suatu keberuntungan. Maka
sependek pengetahuan kami merenungkan hikmahnya, wujud dari keberuntungan itu
terwujud pada tiga hal:
1.
Allah Menganuggerahkan Hidayah Agar Kita Bertaubat
Keinginan atau kehendak untuk bertaubat kepada Allah swt itu
sejatinya tidaklah datang sendiri. Tapi tentu datangnya dari hidayah Allah. Bisa
melalui lisan seseorang, bisa melalui tampilan yang kita lihat, atau musibah
yang menimpa kita.
Oleh karena itu, beruntunganlah bagi mereka yang memilih jalan
taubat. Kembali kepada jalan kebenaran yang Allah swt tunjukan kepadanya. .
Begitu juga sebaliknya, bencana bagi mereka yang Allah biarkan dalam kesesatan.
Berbangga hati dengan kemaksiatan dan keburukan yang sejatinya merugikan mereka
di akhirat.
Allah swt berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِى
مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”[2]
2.
Allah Bergembira Atas Taubatnya Seorang Hamba
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah saw,
beliau berkata bahwa beliau saw bersabda,
اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ
مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi
kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang
telah hilang di suatu tanah yang luas.”[3]
3. Ampunan
Allah Terbentang Luas
Nabi
shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
Sebagai
seorang muslim, kita pernah jangan berputus dengan kasih sayang Allah. Sebesar
apapun dosa kita. Pintu ampunan tetaplah terbuka lebar. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad saw sebagai berikut:
إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب
مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها
Artinya:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk
menerima taubat hamba yang berdosa di siag hari. Dan Allah Ta’ala membentangkan
tagan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di malam hari,
sampai matahari terbit dari barat.”[4]
Syarat
Taubat[5]
Adapaun
syarat taubat yang harus terpenuhi menurut Imam An-Nawawi dalam kitab
Riyadus-Shalihin ada tiga. Khususnya bila tidak berkaitan dengan hal-hak
manusia sebagai berikut:
1.
Pertama:
Meninggalkan kemaksiatan
2.
Kedua:
Menyesali perbuatannya
3.
Ketiga:
Bertekad untuk tidak mengulanginya.
Jika
hilang salah satu dari ketiga syarat ini maka taubatnya tidak sah.
Namun
jika maksiat berkaitan dengan hak-hak manusia, masyarat taubatnya ada empat,
yaitu ketiga syarat di atas, danmembebaskan diri dari hak orang lain, jika
berupa harta atau yang semisalnya maka hendaknya dikembalikan kepada
pemiliknya.
